BELAJAR MENERIMA
“Mama dan papa jahat!” teriak Natania di dalam hati. Karena marah dan kesal, Natania berlari keluar rumah tanpa pamit pada siapapun. Ia betul-betul jengkel pada mama dan papanya.
Natania terus melangkah tanpa arah. Akhirnya tibalah ia di suatu daerah yang sangat kumuh. Banyak anak yang sebaya dengannya tinggal di tempat itu. Pakaian mereka begitu kotor dan kumal, namun mereka bermain dengan riangnnya. Natalia sangat iri melihat mereka. Melihat Natania mendekat, mereka langsung mengerumuni Natania.
“Kalian sedang bermain apa?” tanya Natania ramah. Anak-anak itu hanya menatap heran.
“Kamu siapa? Kamu bukan anak sini, kan?” mereka malah balik bertanya.
“Bajumu bersih dan rapi. Sedang apa kamu disini?” sambung salah seorang anak.
“Aku cuma jalan-jalan,” kata Natania berbohong. “Kalian semua seru sekali bermain. Orang tua kalian tidak mencari?” tanya Natania.
“Sebagian dari kami sudah tidak punya orang tua lagi,” jawab salah seorang dari mereka. “Tapi itu tidak masalah. Kami tidak merasa kesepian sebab kami selalu main bersama. Kamu sendiri bagaimana?” tanya seorang anak.
Pertanyaan itu membuat Natania terdiam. “Orang tuaku sedang bekerja.
Mereka juga tidak akan mungkin mencariku,” kata Natania.
“Aku boleh kan, ikut main?” tanyanya. Mereka semua mengangguk dan tersenyum.
Lalu mereka mengajari Natania bermain lompat tali. Natania merasa sangat senang. Ia tidak merasa sedih lagi. Ia hampir lupa pada masalah kedua orang tuanya.
Setelah kelelahan bermain, mereka duduk dan berbincang-bincang. “Kamu enak ya, Nat! Tinggal di rumah yang bagus dan mewah, bisa sekolah, dan punya banyak temen lagi,” kata anak yang bernama Ela. Rupanya Ela sangat ingin bersekolah, namun orang tuanya tidak punya cukup biaya.
“Iya, kamu memang beruntung, Nat! Kamu masih punya orang tua yang sayang sama kamu. Aku betul-betul iri padamu,” kata Dani, anak yang setiap harinya mengamen di jalanan. Kedua orang tuanya sudah meninggal dan ia yatim piatu sekarang.
Tadi, Natania sangat sedih mendengar kabar bahwa kedua orang tuanya akan bercerai. Natania mengira kedua orang tuanya tidak sayang lagi padanya.
“Kalian tidak perlu iri padaku. Meskipun aku punya orangtua, tetapi merka sebentar lagi akan bercerai. Aku sangat sedih…” bisikya dalam hati.
Lalu Natania memandangi teman-temanya satu per satu. Tiba-tiba ia sadar, bahwa ia harus segera pulang. Pasti orang tuanya akan sangat cemas. Natania buru-buru pamit pada teman-teman barunya itu.
Di jalan, Natania terus memikirkan kata-kata teman-temanya. “Mereka memang benar. Aku punya orang tua yang menyayangiku. Walaupun mereka akan berpisah, mereka tetap kedua orang tuaku. Aku juga punya banyak teman. Jadi buat apa aku sedih?” batinnya.
Sesampainya di rumah, mama dan papanya menyambut dengan lega. Rupanya sudah lama mereka menunggu Natania dengan cemas. Lalu mereka mengajak Natania ke ruanga tengah. Papa Natania mulai bicara.
“Natania, Papa tahu, Papa dan Mama memang salah. Tapi Papa dan Mama sudah memutuskan hal yang sulit ini…” Papa terdiam sejenak.
Lalu melanjutkan dengan nada suara yang sedih, “Natania, setelah Papa dan Mama berpisah, kamu akan tinggal dengan Mama. Semua ini bukan karena Papa tidak sayang sama Natania. Papa sering kali keluar kota. Natania akan lebih aman dan tidak kesepian kalau tinggal bersama Mama.”
Papa lalu terdiam, menunggu reaksi Natania. Mama juaga tampak tegang. Mereka tahu, Natania pasti sangat sedih. Akan tetapi, Natania langsung memeluk kedua orang tuanya. Kini Natania sudah bisa mengerti. Mungkin itu yang terbaik untuk kedua orang tuanya.
“Natania sayang Papa dan Mama. Dan Natania tahu, walaupaun Papa dan Mama berpisah, Papa dan Mama masih sayang sama Natania, katanya sambil tersenyum. Mendengar itu, papa dan mamanya tersenyum lega.







0 komentar:
Posting Komentar